Kamis, 25 Februari 2016

Penyaluran 600 Mushaf Quran di Daerah Banjar Jawa Barat

Team Sebar Wakaf Quran

Setelah sukses mengadakan sebar wakaf Qur’an di Kab. Garut pada bulan Januari 2015. Alhamdulillah, komunitas Sebar Wakaf Qur’an mengadakan kembali penyebaran wakaf Qur’an dan Santunan Anak Yatim di Dusun Jangraga ; Desa Mangunjaya ; Kecamatan Banjarsari ; Kabupaten Pangandaran pada tanggal 13 – 15 Mei 2015. Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang relawan Komunitas Sebar Wakaf Quran dari Yayasan Al Hilal, beberapa pengurus Yayasan Al Hilal dan beberapa anak Yatim yang ikut serta dalam Sebar Wakaf Qur’an ini. Alhamdulillah, pengumpulan dana untuk kegiatan Sebar Wakaf Quran ini dari para donatur terkumpul sekitar 60 juta dalam waktu dua minggu sebelum pelaksanaan.

Keberangkatan menuju kota Ciamis dan Kabupaten Pangandaran pada hari Kamis dini hari sekitar jam 01.00 dengan memakai bus. Keberangkatan dimulai dari Masjid Istiqamah Jl. Taman Citarum. Perjalanan memakan waktu sekitar enam jam dan rombongan tim relawan sebar wakaf Quran sampai jam 7 pagi. Semua relawan beristirahat sekitar dua jam di Masjid At Taqwa di Dusun Jangraga. Sekitar jam 9 pagi tim relawan Komunitas Sebar Wakaf Quran mulai bersiap-siap menyebarkan Wakaf Qur’an dan terbagi ke dalam tiga tim. Penyebaran Wakaf Qur’an dibagikan ke 12 masjid/madrasah yang ada di Desa Mangunjaya Kabupaten Pangandaran.

Tim pertama membagikan ke 6 masjid dengan menggunakan mobil. Tim kedua membagikan ke 5 masjid diantaranya masjid Nurul Amal, masjid Jambu, masjid Nurul Huda, masjid Baiturrahmah, masjid Nurul Falah dan Masjid Al Jihad dengan menggunakan mobil bak terbuka. Tim ketiga adalah tim Bakti Sosial yang bertugas membersihkan masjid dan memberikan motivasi atau Inspirasi kepada para santri yang berjumlah 100 orang. Beberapa relawan memberikan motivasi, games, icebreaking dan inspirasi diselingi dengan pembagian hadiah. Kegiatan sebar wakaf Quran selesai sekitar pukul 12.00. dan semua relawan kembali ke Masjid At Taqwa untuk beristirahat, makan siang dan mempersiapkan acara sore hari.
etelah shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Acara dilanjutkan dengan tabligh akbar yang diisi oleh Ust. Dudung Abdul Ghani. Beliau adalah adik ipar dari KH. Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan Aa Gym. Beliau juga salah satu pimpinan pondok pesantren Kalangsari Cijulang. Acara tabligh akbar diawali dengan beberapa sambutan dari Ketua Yayasan Al Hilal Bpk. Hendra Setiawan dan sambutan dari Kepala Desa Mangunjaya. Dilanjutkan dengan tausiyah atau ceramah dari Ust. Dudung Abdul Ghani.

Wakaf Quran Solusi Pembangunan Karakter Bangsa


Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 mendata ada sekitar 54 persen dari total populasi umat Islam di Indonesia yang tidak bisa membaca Alquran.
Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta, Prof Nasaruddin Umar, mengatakan, saat dirinya menjadi Dirjen Bimas Islam tahun 2012, umat Islam membutuhkan Alquran sebanyak dua juta eksemplar setiap tahun. Sementara, daya cetak baru 300 ribu setiap tahun.
Nasaruddin menyebut permasalahan kurangnya Alquran bukan hanya pada sisi produksi, namun juga distribusi. "Persebaran Alquran ke seluruh daerah Indonesia belum merata," kata guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini kepada Republika, Selasa (10/3).
Meski saat ini banyak yang menggeluti bisnis percetakan Alquran, kebutuhannya akan terus naik setiap tahun. Pasalnya, Alquran juga dibutuhkan masjid, pesantren, sekolah, dan perpustakaan. "Kadang saya heran juga saat berkunjung ke daerah, di masjid tidak ada Alquran," katanya memaparkan.
Ia melihat masyarakat kelas bawah yang paling memerlukan bantuan Alquran. "Orang yang buta huruf Alquran itu rata-rata orang miskin. Bagaimana mau melek Alquran kalau mushafnya saja tidak punya?" ungkap dia. Kalaupun memiliki mushaf, kualitas kertasnya sangat jelek. "Jika Alquran itu hilang satu lembar maka tidak bisa khatam membacanya," katanya.
Secara perhitungan, idealnya jumlah Alquran adalah setengah dari populasi umat Islam. Jika saat ini ada 190 juta umat Islam maka harus disediakan hampir 100 juta mushaf. Jumlah ini belum memperhitungkan  masjid dan mushala seluruh Indonesia yang hampir mencapai 700 ribu.
"Tapi, kita harus penuhi dulu dua juta mushaf per tahun. Masjid harus punya minimal lima untuk laki-laki dan lima untuk perempuan. Kalau masjid raya tentu lebih banyak lagi," kata mantan wakil menteri agama ini memaparkan.
Demi memenuhi kebutuhan Alquran waktu itu, Nasaruddin pernah menyampaikan agar Indonesia memiliki percetakan khusus Alquran yang memadai. Lembaga khusus ini penting agar setiap orang tidak mencetak  Alquran sembarangan. 
Karena, kalau tidak ada percetakan khusus Alquran maka orang bisa sembarangan mencetak Alquran seperti mencetak koran. Meski Kementerian Agama sudah memiliki percetakan Alquran di Ciawi, diakui Nasaruddin, jumlahnya belum memadai. "Mesin cetak di Ciawi hanya bisa mencetak kebutuhan Alquran di internal Kemenag," sebut dia. "Makanya pencetakan Alquran selalu ditenderkan setiap tahun," katanya.
Nasaruddin mengatakan, sumbangan Alquran dari Timur Tengah juga sangat bermanfaat sekali untuk menutupi kebutuhan Alquran di Indonesia yang sangat tinggi.
Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Machasin menambahkan, pendistribusian Alquran ke seluruh Indonesia memang belum merata. Karena satu tahun, Kemenag baru bisa mendistribusikan Alquran kurang dari satu juta eksemplar. "Penyebabnya karena dananya memang tidak cukup," katanya.
Untuk tahun ini, kata Machasin, Kemenag akan mendistribusikan sekitar 1.500 ribu Alquran yang dibagi dalam beberapa bentuk. Misalnya, bentuk mushaf sekitar 800 ribu, 200 ribu Alquran terjemahan dan 500 ribu juz amma.
Sales Director Penerbit Syaamil Al Qur'an Mukhaeroni mengakui, pendistribusian Alquran ke daerah memang belum merata. Alquran masih banyak terserap di Jakarta sebagai Ibu Kota.
Pihaknya sebagai penerbit Alquran swasta yang mendistribusikan mushaf ke Sumatra dengan menggunakan agen. Itu pun, diakui Mukhaeroni, masih terpusat di kota-kota besar, seperti di Palembang, Lampung, Bengkulu, Pekan Baru, dan Aceh. "Tapi apakah itu sampai terserap ke kota/kabupaten itu yang belum kita survei karena kita belum melakukan itu," katanya.
Ia menyebut, kendala penerbit swasta untuk masuk sampai daerah adalah jalur distribusi sampai ke agen. "Jalur distribusi kita belum merata sampai daerah terpencil," ungkap Mukhaeroni. 
Indonesia juga sering dibantu Alquran dari Timur Tengah. Biasanya, selain mendatangkan langsung dari negaranya, beberapa negara Islam mengamanahkan produksi mushaf ke penerbit lokal.
Meski mengkhususkan diri sebagai penerbit Alquran, kapasitas Syaamil dalam menerbitkan mushaf juga terbatas. "Harus diakui kebutuhan memang tinggi. Setiap tambah penduduk tambah kebutuhan." Perlu kehati-hatian dan ketelitian dalam menerbitkan mushaf. Prosesnya lama karena harus meneliti tanda baca, huruf, susunan, hingga detail.
"Karena ini risikonya dahsyat karena ketika kelebihan titik satu saja artinya sudah berbeda, belum lagi komplain dari masyarakat dan ulama," katanya.