Kamis, 25 Februari 2016

Wakaf Quran Solusi Pembangunan Karakter Bangsa


Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 mendata ada sekitar 54 persen dari total populasi umat Islam di Indonesia yang tidak bisa membaca Alquran.
Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta, Prof Nasaruddin Umar, mengatakan, saat dirinya menjadi Dirjen Bimas Islam tahun 2012, umat Islam membutuhkan Alquran sebanyak dua juta eksemplar setiap tahun. Sementara, daya cetak baru 300 ribu setiap tahun.
Nasaruddin menyebut permasalahan kurangnya Alquran bukan hanya pada sisi produksi, namun juga distribusi. "Persebaran Alquran ke seluruh daerah Indonesia belum merata," kata guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini kepada Republika, Selasa (10/3).
Meski saat ini banyak yang menggeluti bisnis percetakan Alquran, kebutuhannya akan terus naik setiap tahun. Pasalnya, Alquran juga dibutuhkan masjid, pesantren, sekolah, dan perpustakaan. "Kadang saya heran juga saat berkunjung ke daerah, di masjid tidak ada Alquran," katanya memaparkan.
Ia melihat masyarakat kelas bawah yang paling memerlukan bantuan Alquran. "Orang yang buta huruf Alquran itu rata-rata orang miskin. Bagaimana mau melek Alquran kalau mushafnya saja tidak punya?" ungkap dia. Kalaupun memiliki mushaf, kualitas kertasnya sangat jelek. "Jika Alquran itu hilang satu lembar maka tidak bisa khatam membacanya," katanya.
Secara perhitungan, idealnya jumlah Alquran adalah setengah dari populasi umat Islam. Jika saat ini ada 190 juta umat Islam maka harus disediakan hampir 100 juta mushaf. Jumlah ini belum memperhitungkan  masjid dan mushala seluruh Indonesia yang hampir mencapai 700 ribu.
"Tapi, kita harus penuhi dulu dua juta mushaf per tahun. Masjid harus punya minimal lima untuk laki-laki dan lima untuk perempuan. Kalau masjid raya tentu lebih banyak lagi," kata mantan wakil menteri agama ini memaparkan.
Demi memenuhi kebutuhan Alquran waktu itu, Nasaruddin pernah menyampaikan agar Indonesia memiliki percetakan khusus Alquran yang memadai. Lembaga khusus ini penting agar setiap orang tidak mencetak  Alquran sembarangan. 
Karena, kalau tidak ada percetakan khusus Alquran maka orang bisa sembarangan mencetak Alquran seperti mencetak koran. Meski Kementerian Agama sudah memiliki percetakan Alquran di Ciawi, diakui Nasaruddin, jumlahnya belum memadai. "Mesin cetak di Ciawi hanya bisa mencetak kebutuhan Alquran di internal Kemenag," sebut dia. "Makanya pencetakan Alquran selalu ditenderkan setiap tahun," katanya.
Nasaruddin mengatakan, sumbangan Alquran dari Timur Tengah juga sangat bermanfaat sekali untuk menutupi kebutuhan Alquran di Indonesia yang sangat tinggi.
Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Machasin menambahkan, pendistribusian Alquran ke seluruh Indonesia memang belum merata. Karena satu tahun, Kemenag baru bisa mendistribusikan Alquran kurang dari satu juta eksemplar. "Penyebabnya karena dananya memang tidak cukup," katanya.
Untuk tahun ini, kata Machasin, Kemenag akan mendistribusikan sekitar 1.500 ribu Alquran yang dibagi dalam beberapa bentuk. Misalnya, bentuk mushaf sekitar 800 ribu, 200 ribu Alquran terjemahan dan 500 ribu juz amma.
Sales Director Penerbit Syaamil Al Qur'an Mukhaeroni mengakui, pendistribusian Alquran ke daerah memang belum merata. Alquran masih banyak terserap di Jakarta sebagai Ibu Kota.
Pihaknya sebagai penerbit Alquran swasta yang mendistribusikan mushaf ke Sumatra dengan menggunakan agen. Itu pun, diakui Mukhaeroni, masih terpusat di kota-kota besar, seperti di Palembang, Lampung, Bengkulu, Pekan Baru, dan Aceh. "Tapi apakah itu sampai terserap ke kota/kabupaten itu yang belum kita survei karena kita belum melakukan itu," katanya.
Ia menyebut, kendala penerbit swasta untuk masuk sampai daerah adalah jalur distribusi sampai ke agen. "Jalur distribusi kita belum merata sampai daerah terpencil," ungkap Mukhaeroni. 
Indonesia juga sering dibantu Alquran dari Timur Tengah. Biasanya, selain mendatangkan langsung dari negaranya, beberapa negara Islam mengamanahkan produksi mushaf ke penerbit lokal.
Meski mengkhususkan diri sebagai penerbit Alquran, kapasitas Syaamil dalam menerbitkan mushaf juga terbatas. "Harus diakui kebutuhan memang tinggi. Setiap tambah penduduk tambah kebutuhan." Perlu kehati-hatian dan ketelitian dalam menerbitkan mushaf. Prosesnya lama karena harus meneliti tanda baca, huruf, susunan, hingga detail.
"Karena ini risikonya dahsyat karena ketika kelebihan titik satu saja artinya sudah berbeda, belum lagi komplain dari masyarakat dan ulama," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar